Jeonju (μ μ£Ό) adalah jantung kuliner sekaligus budaya Korea, kota tempat rumah tradisional beratap melengkung berdampingan dengan kuil kerajaan, gang-gang pengrajin, dan resep paling tersohor di negeri ini: bibimbap. Hanya dengan dua hari, kamu sudah punya cukup waktu untuk menyusuri desa hanok terbesar di Korea, bersulang dengan makgeolli di kedai tua berusia ratusan tahun, dan membawa pulang selembar kertas hanji buatan tangan. Itinerary ini dirancang untuk dijelajahi dengan berjalan kaki, berirama santai, dan mengikuti alur geografis yang masuk akal sehingga kamu tidak bolak-balik tanpa arah.
Hari 1: Jantung Desa Hanok dan Warisan Kerajaan
Mulailah pagi dengan menyusuri Jeonju Hanok Maeul (μ μ£Ό νμ₯λ§μ), perkampungan rumah tradisional terbesar di Korea, dengan lebih dari delapan ratus hanok beratap melengkung yang berderet di sepanjang gang berbatu. Banyak wisatawan menyewa hanbok untuk berjalan-jalan dan berfoto di antara emper kayu serta dinding batu. Menjelang siang, melangkahlah ke Gyeonggijeon (κ²½κΈ°μ ), kompleks tenang yang menyimpan potret Raja Taejo, pendiri Dinasti Joseon; halaman rindangnya dan rumpun bambunya mengajak kamu berjalan tanpa terburu-buru. Tepat di seberang jalan berdiri Katedral Jeondong (μ λμ±λΉ), salah satu gereja terindah di Korea, berbata merah dengan nuansa Romawi-Bizantium, dibangun di tempat para penganut Katolik pertama negeri ini dahulu menjadi martir. Untuk makan siang, kamu tak boleh meninggalkan Jeonju tanpa mencicipi hidangan andalannya: jeonju bibimbap, semangkuk nasi bermahkotakan sayuran musiman, daging sapi, telur, dan pasta gochujang yang khas, disajikan dengan banchan yang melimpah. Sore hari, naiklah dengan berjalan kaki ke paviliun Omokdae (μ€λͺ©λ), titik pandang di bukit kecil yang menyuguhkan lautan atap kelabu desa hanok, terutama memesona saat cahaya keemasan senja. Tutup hari dengan makan malam ringan di salah satu rumah teh atau gang di sekitar, lalu sisakan tenaga untuk kedai makgeolli (λ§κ±Έλ¦¬), arak beras putih susu yang membuat Jeonju masyhur: di sini ia disajikan per teko, ditemani banjir hidangan kecil yang datang gratis ke meja.
Hari 2: Kerajinan Hanji, Alam, dan Pasar Malam
Luangkan pagi untuk sisi paling artisan dari Jeonju di Pusat Kebudayaan Tradisional Hanji (νμ§), kertas Korea buatan tangan dari kulit pohon murbei, yang membuat kota ini terkenal selama berabad-abad; kamu bisa menyaksikan proses pembuatannya dan membeli kipas, buku catatan, serta lampion sebagai oleh-oleh autentik. Lanjutkan menuju kawasan bengkel pengrajin di desa hanok, tempat para seniman kaligrafi dan ukir masih bekerja. Menjelang tengah hari, lakukan kunjungan singkat ke kuil Konfusius Jeonju Hyanggyo (μ μ£Όν₯κ΅), oase pohon ginkgo berusia ratusan tahun dan halaman hening yang berubah kuning keemasan di musim gugur. Untuk makan siang, cobalah kongnamul gukbap, sup nasi tauge yang menghangatkan, khas Jeonju, ideal untuk memulihkan tenaga, atau tergodalah dengan jajanan tusuk terkenal di gang-gang desa. Sore hari, berjalanlah di sepanjang anak sungai Jeonjucheon (μ μ£Όμ²) yang membatasi desa hanok, atau kunjungi kawasan mural Jaman (μλ§λ²½νλ§μ), perkampungan kecil dengan rumah-rumah berhias lukisan warna-warni yang merambat naik di lereng. Sisakan malam untuk Nambu Yajang (λ¨λΆμΌμμ₯), pasar malam Nambu: pada akhir pekan, lorongnya dipenuhi gerai jajanan tempat mencicipi bao, sate, dumpling, dan kudapan tradisional, penutup yang sempurna dan lezat untuk berpamitan dengan ibu kota kuliner Korea.
π‘ Tips
- Jeonju hampir seluruhnya bisa dijelajahi dengan berjalan kaki: desa hanok, Gyeonggijeon, Katedral Jeondong, dan Pasar Nambu hanya berjarak beberapa menit jalan satu sama lain, jadi kenakan alas kaki yang nyaman.
- Menyewa hanbok (busana tradisional) biasanya memberi akses gratis ke beberapa kompleks seperti Gyeonggijeon dan melipatgandakan kesempatan berfoto cantik di antara hanok.
- Pasar malam Nambu hanya buka pada malam tertentu, biasanya Jumat hingga Minggu; rencanakan makan malam Hari 2 dengan mempertimbangkan hal ini.
- Cicipi makgeolli di kedai tradisional (makgeolli jip): dipesan per teko, dan makin banyak ronde yang kamu pesan, makin banyak banchan (lauk pendamping) gratis yang datang ke meja.
β Pertanyaan umum
Apakah 2 hari cukup untuk menjelajahi Jeonju?
Cukup. Dua hari memadai untuk menikmati dengan santai desa hanok, Gyeonggijeon, Katedral Jeondong, kerajinan hanji, dan pasar malam Nambu, sekaligus mencicipi bibimbap legendarisnya dan makgeolli. Jika punya lebih banyak waktu, kamu bisa menambahkan tamasya ke sekitarnya.
Bagaimana cara menuju Jeonju dari Seoul?
Cara tercepat adalah kereta KTX dari Stasiun Seoul atau Yongsan menuju Stasiun Jeonju, hanya dalam waktu sekitar satu setengah jam. Tersedia juga bus ekspres yang sering berangkat dari Terminal Seoul Express. Dari Stasiun Jeonju, desa hanok dapat dicapai dengan perjalanan singkat naik bus atau taksi.
Apa yang wajib dimakan di Jeonju?
Jeonju bibimbap adalah keharusan, karena kota inilah tempat kelahirannya. Padukan dengan makgeolli (arak beras) di kedai tradisional, cicipi kongnamul gukbap (sup tauge) untuk sarapan, dan akhiri dengan jajanan kaki lima di pasar malam Nambu.
Sesuaikan itinerary ini
AI menyusun ulang sesuai tanggalmu, gratis.